Perkebunan Kelapa Sawit dan Ketahanan Pangan, Benarkah?

Sungguh prestasi yang brilliant di dapuk PTPN Holding, perusahaan pelat merah ini juga mampu bangkit dari keterpurukan, manakala harga tandan buah segar (TBS) melorot di World Trade Centre (WTC) mempengaruhi ekonomi nasional.

Di mana PTPN Holding, garda terdepan [Sektor Perkebunan] sebagai penopang ekonomi Indonesia anjlok.

PTPN Holding mengalami masa berkabung segaris krisis global; Tetapi itu tak lama, berbagai inovasi dilakukan PTPN untuk bangkit dan beranjak dari keterpurukan.

BACA JUGA...  Jejak Korupsi, Datok Penghulu Lama di Kuala Peunaga

Varietas Kultur

Sebut saja PTPN III perusahaan perkebunan milik negara yang mengelola perkebunan sawit terluas di dunia ini resmi merilis NUSAKlon 1 dan NUSAKlon 2, varietas kultur jaringan kelapa sawit yang memiliki potensi produktivitas crude palm oil (CPO) sangat tinggi yang mencapai 12 ton per hektare per tahun.

Potensi produktivitas CPO varietas NUSAKlon 1 dan NUSAKlon 2 yang merupakan hasil penelitian dan pengembangan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai unit kerja Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bekerja sama dengan PTPN IV PalmCo tersebut 30 hingga 40 persen lebih tinggi dibanding rata-rata varietas yang beredar saat ini berkisar 7-8 ton per hektare per tahun.

BACA JUGA...  Menelusur ‘Langkah Kaki’ Perambah Hutan Bakau di Muara Hilir Sungai Tamiang

Ini menjadi potensi besar peningkatan produktivitas CPO bahkan tanpa ekstensifikasi lahan yang tentu berdampak pada visi ketahanan pangan Indonesia.