Agar paket pekerjaan pengadaan IPAL untuk Puskesmas tidak terkesan asal asalan bahkan terukur. Sebab harus dinilai dari semua aspek.
“Contohnya, hari ini Paket Pekerjaan Pengadaan IPAL untuk lima Puskesmas, berjalan tidak optimal. Bisa dikatakan kegiatan tersebut gagal, sebab tidak memiliki kajian mendalam, terkesan pengadaannya asal bapak senang (ABS),” tegasnya.
Malah, kata Sayed; temuan LembAHtari di lapangan bahwa IPAL di sebagian Puskesmas ada yang sama sekali tidak berpungsi. Dan sebahagiannya lagi harus di bagi waktu kerja sebab kekurangan daya arus listrik.
Lalu Proses netralisasi Limbah Cair Bahan Berbahaya Beracun (B3) tidak berpungsi secara optimal.
Jika IPAL dihidupkan, seluruh ruangan di Puskesmas mati listriknya. Termasuk di ruangan rawat inap pasien, sehingga mengganggu proses pelayanan kepada pasien.
“Daya 90 Ampere listrik yang sudah terpasang saat ini di tiap tiap Puskesmas tidak mampu menampung daya beban kelistrikan di Puskesmas. Apalagi ditambah beban untuk menghidupkan IPAL ya jelas tidak mampu,” jelasnya.
Jelas Sayed, kekurangan arus listrik itu harus segera lakukan penambahan Daya Arus Listrik, sebab Genset yang ada digunakan sebagai blackstar tidak berpungsi sama sekali.




