Prustasi boleh, tetapi tidak membabi buta menyerang orang lain memakai cara-cara kotor. Mempertontonkan dagelan politik murahan dengan keprustasiannya.
Peluang agar tidak ada lawan tong kosong sudah diberikan berbulan-bulan untuk melobi sampan partai sebagai kendaraan politik, masing-masing bacalon [saat itu] bupati.
Dari level Kabupaten, Provinsi sampai Pusat, opended untuk siapa pun calon, selama mengikuti aturan dan prosedur partai. Nyatanya kita lihat sama-sama tak ada yang mampu mengambil hati dan meyakinkan punggawa partai luluh. Hanya pada Paslon Cabup Armia Fahmi – Ismail partai monggokan mereka.
Sampai-sampai kampanye hitam dilakukan secara terbuka di media sosial, mendiskreditkan Paslon Bupati Armia Fahmi – Ismail, serta membesarkan lawan tong kosong.
Ayo berpikir jernih, jika para tim masing-masing paslon Bupati bekerja maksimal, melobi dan meyakinkan partai, pastinya tidak seperti yang ada hari ini.
Lebih menjalankan politik Asal Bapak Senang (ABS), Paslon Bupati bukan menerima laporan riil, sehingga Cabup merasa semuanya sudah berjalan dengan baik, padahal yang terjadi sebaliknya.
Kegagalan mereka melobi partai dan audien, dijadikan sebagai tumbal untuk jelekkan pasangan lain, mereka [tim] cuci tangan seakan kerja mereka sudah baik dan bagus.




