Menebus Kerusakan Mangrove

Kasto Wahyudi, Ketua Kelompok Tani Penghijauan Maju di Pesisir Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Belasan tahun ia berjuang untuk pelestarian lingkungan mangrove.

Sebagian masyarakat terlibat sebagai pengelola wisata. Sebagian lainnya mengembangkan produk olahan hasil laut, termasuk makanan olahan berbahan ikan.

Kasto menyebut perubahan ekonomi masyarakat saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika eksploitasi mangrove masih berlangsung.

“Dulu penghasilan dari menebang mangrove tidak seberapa. Sekarang masyarakat bisa memperoleh pendapatan dari pembibitan mangrove, perikanan, dan sektor wisata,” katanya.

Manager Community Involvement and Development Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan inisiatif masyarakat menjadi faktor utama dukungan perusahaan terhadap kawasan tersebut.

BACA JUGA...  JDIH Aceh Tamiang Raih Penghargaan Nasional, Wabup Ismail: Akses Informasi Hukum Harus Mudah Dijangkau Masyarakat

Menurut dia, rehabilitasi lingkungan yang dilakukan masyarakat telah memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

“Saya pernah menjadi bagian dari kerusakan itu. Sekarang saya hanya ingin memastikan mangrove tetap hidup agar masyarakat pesisir tidak kehilangan masa depan.”

Menjelang senja, perahu-perahu nelayan kembali ke dermaga kecil di Pasar Rawa. Anak-anak bermain di jalur wisata mangrove yang kini menjadi simbol perubahan desa.

BACA JUGA...  Pancasila sebagai Jangkar Moral Bangsa

Di kawasan yang pernah mengalami kerusakan, masyarakat perlahan membangun harapan baru.

Bagi Kasto Wahyudi, rehabilitasi mangrove bukan hanya tentang memulihkan alam, tetapi juga menjaga masa depan warga pesisir agar tetap memiliki ruang hidup yang berkelanjutan. [].