Pohon-pohon mangrove ditebang secara masif tanpa memperhitungkan dampak ekologis jangka panjang. Kondisi itu perlahan memicu kerusakan lingkungan di kawasan pesisir.
Menurut Kasto, hilangnya mangrove menyebabkan air laut berubah keruh, abrasi meningkat, dan populasi biota laut menurun drastis.
“Dulu kepiting dan udang mudah didapat. Setelah mangrove rusak, hasil tangkapan nelayan menurun,” ujarnya.
Dampak kerusakan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Nelayan yang sebelumnya dapat mencari hasil laut di sekitar kawasan pesisir harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan tangkapan.
Kondisi itu mendorong Kasto melakukan perubahan. Ia mulai mengumpulkan bibit mangrove secara mandiri untuk ditanam kembali di kawasan yang mengalami kerusakan.
Upaya tersebut dilakukan secara otodidak dan tanpa dukungan dari pihak lain pada tahap awal.
Ia mengaku sempat menghadapi berbagai tantangan, termasuk keraguan dari sebagian warga terhadap upaya rehabilitasi yang dilakukannya.
“Banyak yang menganggap apa yang saya lakukan sia-sia. Namun, saya tetap melanjutkannya,” kata dia.
Seiring waktu, Kasto mulai mengajak warga lain, termasuk mantan pelaku usaha arang bakau, untuk ikut terlibat dalam rehabilitasi mangrove.




