“Selama masih ada warga yang belum tersentuh bantuan, BPBD tidak punya istilah istirahat.”
[Kepala Pelaksana (Kalaks) BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, SSTP, MSP].
ACEH TAMIANG belum pulih dari luka bencana. Air bah ekologi yang meluluhlantakkan kabupaten itu meninggalkan jejak perkampungan yang patah, akses-akses darat yang runtuh, serta ribuan warga yang masih menggigil dalam ketidakpastian.
Di tengah keletihan yang membalut hari-hari darurat ini, satu unit kecil terus bekerja dalam senyap—BPBD Aceh Tamiang.
Di posko induk yang berdiri di belakang Kantor Sekdakab, Kepala Pelaksana (Kalaks) BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, SSTP, MSP, menjadi titik koordinasi seluruh gerak penanganan.
Di ruangan yang penuh peta, radio komunikasi, dan tumpukan laporan situasi, ia menyampaikan kabar yang setidaknya memberikan sedikit ruang bernapas bagi warga terdampak.
“Tenda keluarga yang dikirimkan BNPB sebanyak 876 unit sudah kita distribusikan ke kampung-kampung terdampak,” ujar Suhery dengan suara serak.
Distribusi yang Berpacu dengan Bencana
TENDA-TENDA itu telah menyebar ke empat kecamatan; Kota Kualasimpang, Karang Baru, Rantau, dan Sekerak—terutama ke Kampung Sekumur dan Lubuk Sidup, dua wilayah yang terpukul paling keras.




