Arusnya membawa lumpur, batang pohon tumbang, dan puing-puing kebun sawit yang hanyut. Namun para petugas BPBD tetap berangkat, dengan perahu yang sesekali harus berhenti karena ranting besar menutup jalur.
Mereka membawa tenda, air bersih, beras, dan pakaian, sementara di sisi sungai, ratusan warga masih menunggu tanda-tanda bantuan.
Posko yang Hidup 24 Jam.
DI POSKO INDUK, jam sudah lama kehilangan makna. Lampu-lampu menyala sepanjang malam, radio komunikasi tak pernah benar-benar sunyi, dan peta situasi selalu diperbarui setiap beberapa jam.
“BPBD Aceh Tamiang bekerja 24 jam. Semua dikendalikan dari posko induk ini,” kata Suhery, memperlihatkan betapa beratnya operasi ini.
Petugas-petugas muda BPBD, sebagian masih belia, bekerja dengan wajah yang pucat oleh kurang tidur. Ada yang baru kembali dari distribusi ke Sekerak, ada pula yang bersiap mengarungi jalur sungai menuju pedalaman.
Di meja koordinasi, nama-nama kampung yang terputus dicatat satu per satu. Yang sudah mendapat tenda ditandai biru, yang belum dicoret merah. Dan selalu, selalu ada satu titik merah yang harus segera berubah warna.
Kenyataan Lapangan yang Tak Mudah.
MENDISTRIBUSIKAN tenda bukan sekadar menghidupkan mesin truk atau mengisi bensin boat. Ada kampung yang hanya bisa dijangkau setelah jalanan berlumpur dikeruk manual oleh warga. Ada perahu yang harus ditarik melawan arus. Ada jembatan gantung yang hanya tinggal setengah badan.
“Kalau ada jalur darat terbuka, kita masuk. Kalau tidak, kita paksa cari jalur lain. Yang penting bantuan sampai,” kata salah satu petugas BPBD di posko.
Tenda; Simbol Bertahannya Sebuah Keluarga




