Menanti Kiamat Ekologi: Mengapa Banjir Bandang Aceh Tamiang akan Jauh Lebih Dahsyat di Masa Depan?

Selasa, 6 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sayed Mahdi Alaydrus

Sayed Mahdi Alaydrus

KRISIS RESAPAN

KETIDAKBERDAYAAN kita juga disebabkan oleh “penyempitan” ruang hidup air. Aktivitas Galian C, khususnya pengerukan perbukitan untuk tanah uruk, dilakukan secara serampangan tanpa rehabilitasi pascatambang. Bukit yang seharusnya menjadi penyerap air justru dikuliti, menyisakan lahan gundul yang kedap air. Tanah-tanah ini dibawa ke dataran rendah untuk menimbun rawa, sawah, dan lembah alami yang selama ini berfungsi sebagai lokasi “parkir air“.

BACA JUGA...  Banjir Aceh dan Ujian Ketegasan Negara

Secara hidrologis, ketika kita menimbun daerah resapan (retention pond) untuk pembangunan perumahan dan keperluan lainnya, kita sebenarnya sedang mengusir air dari rumahnya sendiri. Karena sifat air adalah mencari tempat terendah, ia akan bergerak liar mencari “rumah baru” yang bisa jadi adalah permukiman yang selama ini kita anggap aman. Kondisi ini juga diperparah lagi dengan tingginya sedimentasi akibat banjir bandang yang menghujam daerah resapan.

BACA JUGA...  Mewarisi Nilai Ibadah dalam Merayakan Kemerdekaan 

Krisis ini diperparah juga dengan kondisi Sungai Tamiang yang “sakit” dari hulu ke hilir. Lumpur dan sedimentasi akibat banjir bandang tahun 2006 lalu dan erosi lahan di hulu menyebabkan pendangkalan sungai yang sangat masif. Sungai Tamiang kini disinyalir telah kehilangan kapasitas tampung normalnya, ia tak lagi mampu menampung debit air saat intensitas hujan meningkat, sehingga banjir meluap lebih cepat dan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

BACA JUGA...  Wartawan Bodrex dan Tingkah Lakunya

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

HSN 2026, Aceh Tengah Gaungkan Perlindungan Santri

Kamis, 22 Okt 2026 - 21:29 WIB

Pengurus dan anggota PWI Simeulue berdiskusi dengan kandidat Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin pada acara perpisahan di Pelabuhan Penyeberangan Sinabang, Kamis sore, 22 Oktober 2026. (Foto: Ricky PWI Simeulue)

RAGAM BERITA

Nasir Nurdin Silahturahmi, PWI Simeulue: Dua Periode 

Kamis, 22 Okt 2026 - 21:20 WIB

RAGAM BERITA

PSI Aceh Gelar Pelatihan Jurnalistik 

Kamis, 22 Okt 2026 - 21:11 WIB

Kakankemenag Aceh Utara H. Fadli, S. Ag., M. Si.

PEMERINTAHAN

Kakankemenag Aceh Utara Apresiasi Ayah Wa Sukseskan HSN 2026

Kamis, 22 Okt 2026 - 15:19 WIB