Menanti Kiamat Ekologi: Mengapa Banjir Bandang Aceh Tamiang akan Jauh Lebih Dahsyat di Masa Depan?

Sayed Mahdi Alaydrus

SISI KEMANUSIAAN YANG TERLUPAKAN

DI BALIK analisis teknis ini, ada wajah-wajah lesu di pengungsian. Saya melihat para ibu yang kebingungan mencari air bersih dan para ayah yang menatap kosong ke arah rumah mereka yang kini hanya menyisakan fondasi. Kerugian ekonomi mungkin bisa dihitung, namun kerusakan psikologis masyarakat Aceh Tamiang yang setiap tahun harus “akrab” dengan bencana adalah tragedi kemanusiaan yang luar biasa.

BACA JUGA...  Hoaks Hambat Pemulihan Banjir Aceh Tamiang

Banjir bandang bukan sekadar siklus alam; ini adalah bentuk “ketidakadilan ekologis“. Masyarakat kecil di pinggiran sungai dan lereng bukit seringkali menjadi korban pertama dari kebijakan penggunaan lahan yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Ketakutan menyelimuti warga setiap kali mendung tebal bergantung di langit Aceh Tamiang dan kini rasa aman telah menjadi barang mewah.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang Jadi Ruang Belajar Kepemimpinan Nasional Pascabencana

JALAN TERJAL PENYELAMATAN

LALU, apa yang harus dilakukan? Kita membutuhkan tindakan radikal yang melampaui sekadar bantuan mi instan dan tenda darurat. Kita butuh keberanian politik untuk melakukan langkah-langkah yang mungkin terdengar “mustahil” namun wajib untuk dilakukan.

Pertama, Moratorium dan Evaluasi Total Perkebunan: Pemerintah harus berani menghentikan izin pembukaan lahan sawit baru. Dan terhadap lahan kelapa sawit yang berada di kemiringan di atas 40% harus segera dikembalikan fungsinya menjadi hutan lindung melalui program reforestasi yang ketat. Mungkinkah ini sanggup kita melakukannya?