MENGAPA KITA SEMAKIN RENTAN?
SECARA teknis, banjir bandang bukan sekadar luapan air sungai. Ia adalah fenomena kegagalan daya dukung lingkungan dalam mengelola limpasan permukaan (surface runoff). Di Aceh Tamiang, kita sedang menghadapi konvergensi maut antara curah hujan ekstrem dan degradasi bio-fisik lahan.
Faktor pertama yang menjadi sorotan serius adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit. Secara morfologis, kelapa sawit memiliki struktur perakaran serabut yang menyebar di permukaan, namun tidak memiliki akar tunggang yang menghujam dalam untuk mengikat agregat tanah pada lereng-lereng curam. Literatur memang menyebutkan sawit menyerap air dalam jumlah besar untuk metabolisme, namun ia tidak memiliki fungsi “penyimpan” (storage) seperti pohon hutan rimba.
Pohon hutan memiliki tajuk berlapis yang memecah energi kinetik air hujan dan sistem perakaran yang menciptakan pori-pori makro di dalam tanah untuk infiltrasi. Sebaliknya, di perkebunan sawit, air hujan cenderung langsung menyentuh tanah, menciptakan erosi lembar, dan memicu ketidakstabilan lereng yang berujung pada longsoran massa tanah.
Kedua, fenomena deforestasi dan illegal logging yang masih terus bergerilya di zona hulu. Setiap satu pohon besar yang ditebang di pegunungan, kita kehilangan daya serap air ribuan liter sekaligus merusak sistem penahan alami. Kayu-kayu gelondongan yang terlihat “menari” di atas gelombang banjir bandang kemarin adalah bukti nyata bahwa hutan kita telah dicincang. Material kayu ini bertindak sebagai “peluru” yang menghancurkan jembatan dan rumah warga di hilir, menciptakan efek domino kerusakan yang mengerikan.




