Menanti Kiamat Ekologi: Mengapa Banjir Bandang Aceh Tamiang akan Jauh Lebih Dahsyat di Masa Depan?

Selasa, 6 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sayed Mahdi Alaydrus

Sayed Mahdi Alaydrus

MENGAPA KITA SEMAKIN RENTAN?

SECARA teknis, banjir bandang bukan sekadar luapan air sungai. Ia adalah fenomena kegagalan daya dukung lingkungan dalam mengelola limpasan permukaan (surface runoff). Di Aceh Tamiang, kita sedang menghadapi konvergensi maut antara curah hujan ekstrem dan degradasi bio-fisik lahan.

Faktor pertama yang menjadi sorotan serius adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit. Secara morfologis, kelapa sawit memiliki struktur perakaran serabut yang menyebar di permukaan, namun tidak memiliki akar tunggang yang menghujam dalam untuk mengikat agregat tanah pada lereng-lereng curam. Literatur memang menyebutkan sawit menyerap air dalam jumlah besar untuk metabolisme, namun ia tidak memiliki fungsi “penyimpan” (storage) seperti pohon hutan rimba.

BACA JUGA...  Refleksi Kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Tantangan dan Harapan

Pohon hutan memiliki tajuk berlapis yang memecah energi kinetik air hujan dan sistem perakaran yang menciptakan pori-pori makro di dalam tanah untuk infiltrasi. Sebaliknya, di perkebunan sawit, air hujan cenderung langsung menyentuh tanah, menciptakan erosi lembar, dan memicu ketidakstabilan lereng yang berujung pada longsoran massa tanah.

Kedua, fenomena deforestasi dan illegal logging yang masih terus bergerilya di zona hulu. Setiap satu pohon besar yang ditebang di pegunungan, kita kehilangan daya serap air ribuan liter sekaligus merusak sistem penahan alami. Kayu-kayu gelondongan yang terlihat “menari” di atas gelombang banjir bandang kemarin adalah bukti nyata bahwa hutan kita telah dicincang. Material kayu ini bertindak sebagai “peluru” yang menghancurkan jembatan dan rumah warga di hilir, menciptakan efek domino kerusakan yang mengerikan.

BACA JUGA...  Mendagri Bermain Api dengan Perdamaian Aceh

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Musriadi Aswad: Pentingnya Sekolah Bebas Bullying 

Senin, 12 Okt 2026 - 18:49 WIB

POLITIK

Mohd Amin Kembali Pimpin Golkar Bener Meriah

Senin, 12 Okt 2026 - 18:18 WIB