Menanti Kiamat Ekologi: Mengapa Banjir Bandang Aceh Tamiang akan Jauh Lebih Dahsyat di Masa Depan?

Sayed Mahdi Alaydrus

Banjir bandang bukan sekadar siklus alam; ini adalah bentuk “ketidakadilan ekologis”. Masyarakat kecil di pinggiran sungai dan lereng bukit seringkali menjadi korban pertama dari kebijakan penggunaan lahan yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Ketakutan menyelimuti warga setiap kali mendung tebal bergantung di langit Aceh Tamiang dan kini rasa aman telah menjadi barang mewah.

Oleh : Sayed Mahdi, SP, M.Si, M.MA

BACA JUGA...  Menanti Nyali Bustami

KABUPATEN Aceh Tamiang kembali bersimbah air dan air mata. Akhir November 2025 lalu, Bumi Muda Sedia seolah dipaksa mengulang memori kelam banjir bandang tahun 2006 silam. Namun kali ini, keganasannya terasa lebih menghancurkan. Di balik angka-angka statistik pengungsi, terdapat jerit kehilangan yang tak ternilai: rumah yang dibangun puluhan tahun hilang dalam hitungan menit, ternak yang menjadi tabungan hari tua hanyut, dan desa-desa yang dulu rimbun kini rata dengan tanah, menyisakan lumpur pekat dan trauma yang mendalam.

BACA JUGA...  Pembabatan Hutan di Wilayah TNGL Sikundur Tenggulun ‘Menggila’, Diduga ada Pembiaran

Sebagai orang yang pernah mengabdi di garda depan perlindungan hutan dan lingkungan hidup di kabupaten ini, saya harus menyatakan sebuah kebenaran pahit: apa yang kita saksikan hari ini barulah permulaan. Jika pola pengelolaan ruang dan komoditas kita tidak berubah total, maka banjir bandang di masa depan akan jauh lebih dahsyat, lebih mematikan, dan tidak akan ada lagi “zona aman” bagi warga Aceh Tamiang.