OPINI  

Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital

Di tengah situasi tersebut, media konvensional menghadapi tekanan yang tidak ringan. Media cetak menjadi sektor yang paling merasakan dampaknya. Oplah surat kabar terus menurun, biaya produksi dan distribusi meningkat, sementara generasi muda semakin jarang menjadikan koran sebagai sumber informasi utama. Banyak perusahaan pers terpaksa mengurangi jumlah halaman, beralih ke platform digital, bahkan menghentikan penerbitan versi cetak mereka. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.

BACA JUGA...  Transformasi Timnas Indonesia : Dari Harapan Menjadi Kenyataan

Persoalan yang dihadapi media tidak berhenti pada perubahan perilaku audiens. Dari sisi bisnis, media massa juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pendapatan iklan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung industri media kini mengalami penurunan signifikan. Sebagian besar belanja iklan digital justru mengalir ke perusahaan teknologi global seperti Google, Meta, YouTube, dan TikTok. Ironisnya, media memproduksi konten jurnalistik yang membutuhkan biaya besar dan proses verifikasi yang ketat, sementara platform digital menikmati keuntungan dari distribusi konten tersebut tanpa harus menanggung biaya produksi jurnalistik yang sama.

BACA JUGA...  Diskriminasi Proses Penegakan Hukum Terhadap Oknum Berdasi Dinsos Bireuen

Dominasi platform digital telah menciptakan ketimpangan baru dalam ekosistem informasi. Perhatian publik saat ini lebih banyak tersita pada platform teknologi dibandingkan media berita itu sendiri. Akibatnya, media sering kali terjebak dalam persaingan mengejar klik dan trafik demi mempertahankan pendapatan. Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya praktik jurnalisme sensasional yang lebih mengutamakan kecepatan dan popularitas dibandingkan kedalaman serta kualitas informasi.