TAPAKTUAN | MA — Pada momen tertentu, seperti saat kenduri sawah, “Mak Meugang” dan Idul Fitri, makanan tradisional ini hadir sebagai hidangan khas bagi masyarakat Aceh.
Khususnya, di pedalaman Aceh, menu ini masih menjadi hidangan istimewa.
Adalah “leumang” nama masakan itu, yang sangat istimewa bagi masyarakat Aceh.
Dia terbuat dari beras ketan, santan, dan garam yang dimasak dengan media balutan daun pisang muda dalam ruas batang bambu muda selama beberapa jam di tungku (biasanya berjejer di atas bentangan) kayu atau besi.
Menjelang hari raya Idul Fitri ini pun, sebagai momen memasak “leumang”. Kendati mulai tergerus oleh zaman dan minimnya dijumpai pokok bambu, bagi sebagian masyarakat Aceh Selatan misalnya Suku Kluet, masakan ini masih menghiasi hidangan “kue/juadah” lebaran.
Pada kalangan Suku Kluet, masakan itu disebut “riris” dan kalau memasak dikatakan dalam bahasa Kluet “ngeriris”.
Hasil masakan itu, menjadi panganan primadona di berbagai acara adat dan perayaan keagamaan.
Tetapi, karena batang bambu sulit didapatkan, maka sebagian masyarakat terpaksa tidak “ngeriris”. Hilangnya tumbuhan bambu menjadi riwayat tersendiri, akibat dirambahnya “pulau” bambu untuk kebun kelapa sawit.



