“Leumang” Aceh, Masakan Tradisi  yang Tersaji di Momen Istimewa

LSeorang perempuan paruh baya sedang merapikan susunan "leumang" saat di perapian.(poto/mediaaceh.co.id/Maslow Kluet).

TAPAKTUAN | MA Pada momen tertentu, seperti saat kenduri sawah, “Mak Meugang” dan Idul Fitri, makanan tradisional ini hadir sebagai   hidangan khas  bagi masyarakat Aceh.

Khususnya, di pedalaman Aceh, menu ini masih menjadi hidangan istimewa.

Adalah “leumang” nama masakan itu,  yang sangat istimewa bagi masyarakat Aceh.

BACA JUGA...  Air Mineral Merek "Dhiet" Resmi Diproduksi

Dia terbuat dari beras ketan, santan, dan garam yang dimasak dengan media balutan daun pisang muda dalam ruas  batang  bambu muda selama beberapa jam di tungku (biasanya berjejer di atas bentangan) kayu atau besi.

Menjelang hari raya Idul Fitri ini pun, sebagai momen memasak “leumang”. Kendati mulai tergerus oleh zaman dan minimnya dijumpai pokok bambu, bagi sebagian masyarakat Aceh Selatan misalnya Suku Kluet, masakan ini masih menghiasi hidangan “kue/juadah” lebaran.

BACA JUGA...  PA dan DPRA Masih Berseteru Berimbas Gaji Guru tak Cair

Pada kalangan Suku Kluet, masakan itu disebut “riris” dan kalau memasak dikatakan dalam bahasa Kluet “ngeriris”.

Hasil masakan itu, menjadi panganan  primadona di berbagai acara adat dan perayaan keagamaan.

Tetapi, karena batang bambu sulit didapatkan, maka sebagian masyarakat terpaksa tidak “ngeriris”. Hilangnya tumbuhan bambu menjadi riwayat tersendiri, akibat dirambahnya “pulau” bambu untuk kebun kelapa sawit.