“Kita ingin Bendera Bintang Bulan bisa berkibar di Serambi Mekkah, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap perjanjian yang ditandatangani dengan darah dan air mata. Kalau kita bisa duduk satu meja untuk bahas pulau, maka sudah waktunya kita duduk satu meja bahas simbol Aceh,” ucap Gibran penuh harap.
Di tengah euforia kembalinya empat pulau ke pangkuan Aceh, Laskar Panglima Nanggroe juga mengajak generasi muda untuk tidak apatis terhadap isu-isu strategis daerah.
Gibran menekankan pentingnya membangun kesadaran politik baru yang berbasis identitas, keadilan, dan masa depan bersama.
“Kita tidak ingin anak muda Aceh tumbuh jadi apatis. Kita ingin mereka bangga dengan tanah kelahirannya. Jangan sampai sejarah hanya jadi cerita lama yang tidak diwariskan secara utuh,” pungkasnya.
Hari ini, air laut di sekitar empat pulau itu terasa lebih tenang. Tapi semangat Aceh tidak sedang mereda. Ia sedang membangun ulang jalannya—dengan damai, tapi juga dengan martabat. Karena bagi Aceh, kembali bukan sekadar ke peta, tapi ke dalam pelukan sejarah yang belum selesai ditulis. [Umar Hakim].




