Oleh: Junaidi Rusli
Kongres Persatuan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2025 di Cikarang seharusnya menjadi momentum bersejarah untuk mengakhiri konflik internal dan memperkuat soliditas organisasi wartawan tertua di Indonesia.
Namun, alih-alih melahirkan rekonsiliasi sejati, kongres ini justru menyisakan pertanyaan besar: benarkah persatuan itu sungguh-sungguh terjadi?
Persatuan atau Sekadar Deklarasi?
Islah yang digadang-gadang antara dua kubu—Hendry Ch Bangun (HCB) dengan legalitas SK Kemenkumham, dan Zulmansyah Sekedang dengan hasil KLB Jakarta—pada kenyataannya masih menyisakan rivalitas.
Sebelum kongres, kedua pihak masih melakukan manuver politik, sementara pasca kongres, aroma persaingan tetap kentara.
Rivalitas itu memuncak pada pemilihan Ketua Umum PWI periode 2025–2030. Kubu HCB tetap mengusung Hendry Ch Bangun, sedangkan kubu Zulmansyah mendorong Akhmad Munir.
Kontestasi internal yang sarat intrik akhirnya dimenangkan Akhmad Munir. Namun kemenangan ini bukan simbol rekonsiliasi, melainkan menambah keraguan publik terhadap kesungguhan “persatuan” yang diklaim.
Jurnalisme yang Absen di Rumah Wartawan
Ironisnya, pertarungan politik internal ini tidak sepenuhnya diwarnai adu visi dan gagasan. Justru terjadi serangan pemberitaan tidak berimbang terhadap kubu tertentu.




