Ketua DPRK Banda Aceh ternyata menaruh perhatian terhadap perkembangan bisnis warung kopi di Banda Aceh. Hal itu terlihat saat dia mendatangi salah satu warung yang terkenal di ibukota Aceh belum lama ini.
Aceh terkenal dengan komoditi kopi. Masyarakatnya pun sangat menyukai minuman berwarna hitam itu. Maka jangan heran, bisnis kopi di Kota Banda dan Aceh pada umumnya kini semakin menjanjikan alias sangat bergairah. Gerai-gerai kopi, baik berkonsep tradisional maupun modern banyak ditemui di sepanjang ruas jalan utama hingga ke peloksok desa.
Para pelaku bisnis melirik kopi sebagai peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Di sisi lain, meningkatnya jumlah penggemar minuman berkafein ini menjadi indikator kopi lokal (Robusta Aceh atau Arabika Gayo) semakin merajai pasar.
Kota Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh, adalah merupakan daerah sentra penjual kopi. Hal ini membuat pertumbuhan coffee shop cukup tinggi. Permintaan akan kopi berkualitas dari banyak gerai kopi menjadi peluang bisnis yang menggiurkan bagi pengecer.
Salah satu warung kopi yang ramai dikunjung pelanggan adalah warung Ayah Gadeng yang berada di kawasan Neusu, Banda Aceh. Warung tersebut merupakan salah satu contoh gerai kopi terkenal di sana. Mulai bisnis sejak puluhan tahun, peminat kopi Ayah Gadeng ini tidak hanya dari Banda Aceh saja.
“Peminat yang sengaja datang dari luar daerah juga sudah banyak. Mitra usahapun tidak hanya berasal dari Banda Aceh, tapi juga dari luar daerah,” ujar Marbawi, seorang karyawan Warkop Ayah Gadeng itu.
Hal sama diakui pemilik Warung Kopi Solong di kawasan Simpang Tujoh, Pasar Ulee Kareng, Banda Aceh. Tidak hanya melayani pembelian kopi curah, usaha kopi Solong, juga memproduksi kopi kemasan, yang merambah beberapa retail modern dan pusat-pusat jajanan di Kota Banda Aceh. Bahkan sudah sampai ke Kota Medan, Jakarta dan Malaysia.
Pemilik warung kopi lainnya yang diberi nama Dhapu Kupi, di kawasan Simpang Surabaya, Banda Aceh, Tarmizi juga mengaku membuka gerai kopi bermula dari rasa cintanya kepada kopi. Semangatnya semakin tumbuh, ketika melihat pertumbuhan Warkop berkonsep café di Banda Aceh cukup tinggi.
“Hanya memanfaatkan jaringan dan modal kepercayaan,“ sebutnya.
Menjamurnya bisnis kopi di Kota Banda Aceh dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Aceh menjadi daya Tarik tersendiri. Meski butuh modal besar, namun bisnis warkop semakin diminati sejumlah pengusaha untuk meraup untung besar. Setiap hari selalu ada pemain baru terjun ke bisnis ini.
Dedi, salah seorang pengusaha kopi di kawasan Taman makam Pahlawan, Kampong Ateuek, mengaku butuh modal besar untuk mengembangkan usaha Warkop. sehingga akan mampu bersaing menarik pelanggan di Banda Aceh.
“Persaingan warung kopi di Banda Aceh saat ini semakin ketat. Sehingga harus dilengkapi dengan wifi,” ujarnya.
Namun, banyaknya warung kopi yang tumbuh bagaikan jamur di musim penghujan itu tidak menjadi kendala dalam berbisnis. Bahkan, akan membuat pedagang lebih semangat menghidangkan kopi racikan.
“Kondusifnya keamanan di Aceh, banyak warung kopi dan café buka 24 jam,“ pungkasnya.
Nah, kisah bisnis warung kopi alias warkop di Aceh seperti Ayah Gadeng sangat banyak bermunculan di Kota Banda Aceh. Usaha warung kopi masih menjanjikan dan terus menjamur. Hal ini didukung dengan posisi Aceh sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas.
Nah, perkembangan yang menarik itu menjadi bahasan seputar potensi bisnis warkop dan mengemuka dalam pertemuan antara pegiat komunitas kopi dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar, di Gedung DPRK Banda Aceh, belum lama ini.
Dalam pertemuan singkat dan hangat tersebut, Farid menyampaikan potensi usaha kuliner bisnis warung kopi di Kota Banda Aceh.
Farid mengatakan, usaha warung kopi di Kota Banda Aceh terus berkembang dari generasi ke generasi. Sehingga tidak mengherankan bila kota ini dikenal sebagai kota 1.000 warung kopi.
“Bisnis warung kopi di Banda Aceh sangat menjanjikan, sehingga pertumbuhannya sangat cepat. Bahkan akhir-akhir ini bermunculan warkop dengan konsep terbuka,” ujarnya.
Farid menambahkan, di setiap sudut kota terdapat warung kopi dari yang tradisional hingga modern. Berbagai kalangan dari usia muda hingga tua berkumpul menikmati secangkir kopi.
“Apalagi Aceh dikenal bukan hanya sebagai penghasil kopi terbanyak, tapi warga Aceh juga penikmat kopi terbesar di negeri ini,” ujar Farid.
Sementara itu, Ihsanuddin, seorang pengusaha kopi yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan bahwa Banda Aceh merupakan salah satu daerah potensial bagi pengusaha kopi dalam mengembangkan usahanya.
“Kami melihat budaya di masyarakat Kota Banda Aceh menyelesaikan berbagai persoalan di warung kopi, tentu ini bagi kami pengusaha kopi ada peluang yang sangat besar,” kata Ihsanuddin.
Namun demikian, kata dia, masyarakat di Banda Aceh umumnya masih menggunakan jenis kopi robusta, sementara hasil produksi kopi yang paling besar di Takengon adalah jenis arabika.
Oleh karena itu, pihaknya ingin memperkenalkan kopi arabika Gayo dengan mengadakan event-event yang bisa mengedukasi masyarakat di Banda Aceh agar bisa lebih banyak lagi beralih ke kopi arabika.
“Karena kita ketahui bersama, kopi arabika ini kadar kafeinnya sangat rendah, tidak setinggi robusta, sehigga ketika di minum ini tidak menyebabkan asam lambung dan ganguan kesehatan lainnya,” bebernya.
Sementara Sabardi, pengusaha kopi dari Gayo juga menyampaikan bahwa pihaknya sudah membangun bisnis kopi Ulunowih dengan tagline “Specialty Coffee from Gayo Farmer”. Ulunowih dalam baasa Gayo artinya kepala air, yang bermakna kehidupan manusia.
“Kopi produk kami selama ini mengikuti berbagai event di tingkat nasional dan juga kita pasarkan ke luar negeri. Alhamdulillah respon pasar sangat positif terhadap kopi dari dataran Gayo Aceh,” bebernya.
Aceh Tak Bisa Lepas dari Warung Kopi
Aceh dan warung kopi tidak dapat dilepaskan. Bahkan, secangkir kopi panas Gayo merupakan identitas bagi orang Aceh. Dalam satu hari, orang Aceh bisa berulang-ulang kali mengunjungi warung kopi mulai dari subuh hingga menuju malam.
“Warung kopi di Aceh memiliki hubungan dengan Dataran Tinggi Gayo yang letaknya dalam satu kawasan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang kini berganti nama jadi Provinsi Aceh pasca MoU Helsinky ditandatangani. Kopi Gayo ditanam di Kabupaten Bener Meriah yang berada diketinggian 1.200 mdpl dengan luas perkebunan kopi sekitar 81.000 hektare. Hal ini membuat produksi kopi Gayo dikenal di seluruh dunia,” urai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar.
Kopi Gayo sendiri baru mulai dikenal sejak zaman kolonial Belanda di abad ke-19. Sejak saat itu kopi Gayo sudah menjadi salah satu kopi yang laku di pasaran internasional. Namun, ada cerita menarik yang dicatat oleh Snouck Hurgronje yang menemukan tanaman kopi di Gayo sebelum kedatangan Belanda.
“Kini kopi Gayo telah dikenal di seluruh dunia dan dianggap sebagai salah satu kopi terbaik. Mulai dari kafe hingga warung kopi di Aceh menyediakan kopi Gayo untuk disuguhkan kepada penikmatnya. Kopi Gayo dan warung kopi telah menjadi kearifan lokal dan identitas orang Aceh khususnya warga Kota Banda Aceh,” pungkas Farid Nyak Umar. (***)
Warung Kopi Jadi Ruang Alternatif



