
Keberadaan kopi di Dataran Tinggi Gayo membuat Aceh menjadi identik dengan kopi. Bahkan, kopi Gayo telah menjadi salah satu produk kopi terbaik di Sumatera. Tidak heran beberapa kafe dari lokal hingga internasional selalu menyediakan kopi Gayo di dalam menunya.
“Apalagi di Kota Banda Aceh, di mana mana ada warung kopi,” ungkap Anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi Golkar, Iskandar Mahmud belum lama ini.
Politisi senior di DPRK Banda Aceh ini turut mengomentari persoalan bisnis kopi di Kota Banda Aceh setelah diminta pendapatnya terkait bisnis warung kopi yang semakin menjamur di setiap sudut kota.
“Saya sependapat dengan Ketua DPRK Banda Aceh, Pak Farid Nyak Umar dalam memandang bisnis warung kopi di Aceh,” sebutnya.
Aceh berkat petani kopi Gayo pun telah menjadikan kopi bagian dari kesehariannya. Bahkan, orang yang datang ke Aceh wajib untuk menikmati kopi dari Dataran Tinggi Gayo. Tak jarang pula sebelum meninggalkan Aceh mereka membawa buah tangan berupa kopi Gayo.
“Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tidak hanya dikenal sebagai Serambi Mekkah namun juga wilayah dengan seribu satu warung kopi,” kata politisi ini.
Sebutan ini tidaklah berlebihan apalagi dengan kopi Gayo yang sudah terkenal itu. Provinsi yang pernah diluluhlantak oleh bencana terdasyat menjelang akhir 2004. Setiap mata memandang dipenuhi oleh warung kopi dari penjuru kota hingga di pelosok desa.
“Bahkan, warung-warung kopi tersebut tidak pernah sepi karena memiliki penikmatnya masing-masing,” ujarnya.
Menurut anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Banda Aceh, Iskandar Mahmud menyatakan, bahwa identitas orang Aceh sangat identik dengan segelas kopi panas merupakan ungkapan yang cocok untuk menggambarkan kepribadian orang Aceh. Hampir setiap hari orang Aceh selalu mendatangi warung kopi untuk melakukan banyak kegiatan baik formal maupun informal.




