Ketua DPRK Banda Aceh Bicara Bisnis Warung Kopi

Rabu, 10 April 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan antara pegiat komunitas kopi dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dengan Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, di Gedung DPRK Banda Aceh, belum lama ini. Foto: Ist

Pertemuan antara pegiat komunitas kopi dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dengan Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, di Gedung DPRK Banda Aceh, belum lama ini. Foto: Ist

Parlementaria
Anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi Golkar, Iskandar Mahmud. Foto: Ist

“Misalnya saja orang Aceh setelah selesai melakukan salat Subuh, sebagian jamaah justru menuju warung kopi terdekat. Di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, orang Aceh baik yang memiliki jabatan maupun staf kantor biasa selalu menyempatkan diri untuk sarapan di warung kopi. Begitu pun pada jam makan siang hingga malam hari pun orang Aceh selalu mampir ke warung kopi,” sebutnya.

Kebiasaan orang Aceh yang selalu datang ke warung kopi menurut Iskandar Mahmud merupakan The Third Place (tempat alternatif) bagi masyarakat Aceh. Orang Aceh menganggap bahwa warung kopi adalah ruang alternatif selain rumah atau perkantoran untuk berkegiatan.

BACA JUGA...  Pembangunan Aceh Besar Harus Berdasarkan Kebutuhan

“Hal ini karena warung kopi bisa menjadi tempat sarapan bahkan untuk bekerja,” katanya.

Warung kopi di Aceh menawarkan berbagai macam kopi baik robusta maupun arabika. Namun, yang pasti penyuplai kopi-kopi di warung kopi kebanyakan berasal dari Gayo. Kemudian, barista mulai meracik kopi panas tersebut dengan menggunakan saringan yang panjang dan ditarik tinggi-tinggi untuk bisa membentuk aroma khas kopi Aceh. Kebanyakan kopi Aceh yang disediakan di warung-warung adalah kopi hitam atau kopi susu. Namun, ada juga racikan kopi yang sangat populer yang disebut dengan sanger. Kopi sanger menawarkan sensari aroma yang berbeda, di mana kopi panas yang disaring dengan cara ditarik tinggi-tinggi dicampurkan dengan sedikit susu sehingga menghasilkan kopi yang berbuih. Kopinya pun terasa tidak terlalu manis bahkan tidak terlalu pahit juga.

BACA JUGA...  Penembak di Las Vegas Sebut Nama Yesus

“Dari sini bisa dilihat bahwa identitas orang Aceh tidak dapat dilepaskan dari kopi. Mulai dari sejarah hingga aspek sosial-budaya petani telah berpengaruh hingga ke warung-warung kopi. Apalagi dengan keberadaan kopi Gayo telah membawa nama Aceh menuju dunia internasional,” pungkas Iskandar. (Parlementaria DPRK Banda Aceh)

 

Berita Terkait

SAPA Desak APH dan BNN Tes Urine Anggota Legislatif Bireuen 
Rahmatsyah Resmi Dilantik
Pelatihan Jurnalistik di Aceh Selatan Bekali Pelajar Hadapi Persaingan Era Digital
Daftar Kesenian Aceh
Ta Marit Bahasa Atjéh
Rapa’i, Serune Kalee dan Suara yang Menjaga Ingatan Budaya Aceh
Bangga Jeuet Keu Ureueng Aceh
Pasca Banjir Mengubah Cara Pandang, Geuchik Pon: Perlu Dukungan Pemerintah untuk Swasembada Pangan
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:15 WIB

SAPA Desak APH dan BNN Tes Urine Anggota Legislatif Bireuen 

Rabu, 16 September 2026 - 17:12 WIB

Rahmatsyah Resmi Dilantik

Rabu, 9 September 2026 - 19:31 WIB

Pelatihan Jurnalistik di Aceh Selatan Bekali Pelajar Hadapi Persaingan Era Digital

Minggu, 23 Agustus 2026 - 03:06 WIB

Daftar Kesenian Aceh

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 03:02 WIB

Ta Marit Bahasa Atjéh

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Bakal Calon Ketua PWI Aceh Muhammad Saman Lolos Verifikasi SC

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:14 WIB

Wakil Bupati Asel H. Baital Mukadis bersama Dandim 0207/Asel Andrino Lubis memberikan motivasi kepada petugas agar penanganan longsor lebih cepat dan sempurna.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:09 WIB