Hardiknas Tanpa Makna : Ketika Sekolah Menjadi Ruang Transaksi, Bukan Transformasi

Sabtu, 3 Mei 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Alizamzami 

SETIAP 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebuah momen yang seharusnya menjadi refleksi mendalam atas wajah pendidikan kita.

Namun peringatan tahun ini, gemanya  terasa hampa, nyaris kehilangan makna.

Di saat negara menggaungkan “Merdeka Belajar”, justru rakyat banyak yang mengeluhkan beratnya beban biaya pendidikan, bahkan sejak langkah pertama anak menginjakkan kaki ke sekolah.

BACA JUGA...  Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital

Di berbagai daerah, terutama di Aceh, masyarakat dikejutkan oleh fenomena wisuda yang dipaksakan di tingkat PAUD, SD, SMP hingga SMA, yang disertai dengan pungutan jutaan rupiah.

Padahal, momen kelulusan itu hanyalah transisi, bukan perayaan akademik. Namun telah berubah menjadi proyek seremonial tahunan, yang tak hanya membebani orang tua, tetapi juga menyimpang dari esensi pendidikan itu sendiri.

BACA JUGA...  Aneuk Metuah Meudoa ke Guree, Momentum Sambut HGN 2025 di Aceh Utara 

Lebih dari itu, orang tua siswa baru juga menghadapi praktik “biaya masuk sekolah” yang dikemas dalam berbagai item dengan dalih, uang komite, uang pakaian, uang gedung, uang bangku, bahkan sumbangan sukarela yang bersifat wajib.

Padahal, menurut aturan, pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan pemerintah seharusnya gratis dan bebas pungutan liar.

BACA JUGA...  Reevaluasi & Revitalisasi Organisasi Buruh Pada Era Milineal

Lalu di mana nilai Hardiknas yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara? Bukankah Beliau mengajarkan,  bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan? Bahwa sekolah adalah rumah rakyat, bukan ladang pungutan?

Berita Terkait

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional
Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Menggugat Arus Modernisasi: Menjaga Muruah Adat Aceh yang Mulai Terkikis

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:55 WIB

Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian

Senin, 27 Juli 2026 - 20:02 WIB

Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:05 WIB

Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Wagub Aceh Raih Penghargaan Penguat Ekonomi Syariah

Minggu, 6 Sep 2026 - 15:34 WIB

RAGAM BERITA

35 Peserta Muda Berebut Tiket Bintang Radio Nasional

Minggu, 6 Sep 2026 - 12:59 WIB