Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA
ACEH Selatan sedang bersiap menyambut gelaran besar yaitu MTQ Ke – XXXVI tingkat Kabupaten. Kali ini dipusatkan di Labuhan Haji dan Labuhan Haji Timur.
Ajang yang memperlombakan empat cabang dengan 22 golongan ini bukan sekadar perhelatan seremonial tahunan. Ia adalah syiar Islam, denyut pembinaan akhlak, dan, sekaligus ladang pencarian generasi Qur’ani masa depan.
Yang lebih membanggakan, MTQ ke XXXVI ini digelar di negeri ulama besar, Abuya Syekh H. Muda Wali Al-Khalidy Labuhan Haji. Ini bukan kebetulan, tapi ketetapan yang mengandung makna mendalam: syiar Al-Qur’an hari ini berdiri di atas jejak para pewaris nabi yang dahulu membumikan Islam dari dayah-dayah.
Negeri Wali, Tanah Ilmu dan Akhlak
Labuhan Haji bukan sekadar kecamatan di pesisir. Ia adalah tanah karomah, tempat lahir dan berkiprahnya Syekh Muda Wali Al-Khalidy, ulama yang menimba ilmu di Haramain dan mendirikan Dayah Darussalam. Dengan visi tajdid (pembaharuan).
Beliau membangun sistem pendidikan dayah yang menyinari Aceh hingga ke Nusantara dan bahkan mancanegara.
Beliau dikenal bukan hanya karena ilmu yang luas, tetapi karena kemurnian niat dan keikhlasan dakwah.
Murid-muridnya menjadi ulama dan pendidik di berbagai penjuru Aceh. Dalam kerangka itu, MTQ adalah kelanjutan estafet ruh dakwah para ulama untuk membina umat melalui al-Qur’an, bukan sekadar dengan lisan, tetapi lewat teladan dan perjuangan.





