Ia bahkan mengkritik gaya debat politik dalam debat Publik yang digelar oleh KIP Aceh Tengah beberapa waktu lalu.
Menurut penilaiannya, Paslon ini hanya menampilkan kepalsuan.
“Ada yang bertanya ke Google, bukan ke hati nurani. Sehingga membuat mereka salah ucap, salah pikir, karena bukan rel kondisi Aceh Tengah yang dilihat,” katanya dengan nada satire
Shabela menegaskan, pasangan SEDE tidak akan terlibat dalam politik saling menjatuhkan. Baginya, semua kandidat adalah putra terbaik Gayo.
Namun, ia tidak segan menyoroti praktik-praktik yang menurutnya melanggar etika, seperti “menguasai ” salah satu dinas di Aceh Tengah untuk kepentingan politik.
“Ada oknum Paslon yang menguasai salah satu dinas, seolah-olah bantuan pemerintah adalah milik kandidat tertentu. Ini dosa besar. Panwas harus bergerak,” tegas Shabela tanpa menyebut siapa Paslon ini.
Salah satu hal yang membedakan SEDE dari kandidat lain adalah pendekatan mereka dalam berkampanye.
Kata Shabela, keyakinan dan dukungan tulus dari masyarakat adalah modal utama.
“Selam kami menjabat sebagai Bupati, tentu ada orang – orang yang kami besarkan, saya pernah membantu orang di birokrasi dan bahkan kontraktor, tapi saya tidak pernah menuntut balasan. Dukungan yang saya minta adalah bentuk penghargaan atas apa yang telah kita capai bersama,” ujar Shabela.




