BANDA ACEH (MA)– DPRA mengecam keras penganiayaan yang menewaskan Arjuna, mahasiswa asal Simeulue, di Masjid Agung Sibolga pada 1 November 2025. Pernyataan tegas itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPRA, Ihya Ulumuddin, SP, SH, MH, yang menilai tragedi tersebut tidak hanya melukai keluarga korban, tetapi juga mencederai nilai kemanusiaan serta kesucian rumah ibadah.
Politisi PKS asal Simeulue itu menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Arjuna, mahasiswa yang sedang menuntut ilmu dan jauh dari kampung halaman. Ia menekankan bahwa masjid adalah tempat perlindungan bagi siapa pun tanpa kecuali, terlebih bagi seseorang yang sedang membutuhkan rasa aman. Menurutnya, tindakan penganiayaan di dalam ruang suci tersebut merupakan bentuk pelanggaran yang sangat serius, baik secara hukum maupun moral.
“Masjid adalah rumah Allah, tempat setiap insan merasa aman dan terlindung. Jangankan seorang Muslim, bahkan non-Muslim pun berhak berlindung di dalam masjid dalam keadaan darurat,” kata Ihya Ulumuddin dengan suara bergetar, Selasa, 04 November 2025. Ia menilai peristiwa ini telah melampaui batas kewajaran dan harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Dalam keterangannya kepada Media Aceh, Ihya mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa para pelaku harus dihukum seberat-beratnya agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Baginya, kekerasan terhadap mahasiswa Simeulue bukan pertama kali terjadi, dan ia berharap kejadian kelam ini menjadi yang terakhir.
“Sudah cukup. Jangan ada lagi Arjun-Arjun berikutnya yang menjadi korban,” ujarnya tegas, mengingatkan bahwa para pelajar dan mahasiswa dari Simeulue adalah aset yang harus dijaga oleh semua pihak.
Di akhir pernyataannya, Ihya menyampaikan doa agar keluarga diberi ketabahan dan masyarakat tetap tenang menghadapi proses hukum. Ia berharap ke depannya mahasiswa perantau dari Aceh, khususnya dari Simeulue, dapat memperoleh perlindungan yang lebih baik di mana pun mereka berada.
“Mahasiswa kita adalah harapan masa depan daerah. Mereka pergi menuntut ilmu untuk membangun Simeulue, bukan untuk pulang dalam duka. Mari kita jaga mereka sebagaimana kita ingin anak-anak kita dijaga,” tutup Ihya dengan penuh keharuan. (Kadri Amin)




