“Ini bukan sekadar pelanggaran birokrasi, ini adalah bentuk pembusukan dari dalam. Siapa yang bersuara dianggap musuh,” ungkap seorang ASN senior yang enggan disebutkan namanya demi keamanan dirinya.
Ia menyebut suasana kerja di Disdikbud Aceh Timur kini penuh ketakutan dan tekanan psikologis.
Lebih dari itu, Bustami juga dinilai memiliki sikap antikritik terhadap media massa. Berbagai upaya konfirmasi yang dilakukan oleh sejumlah jurnalis, termasuk media ini, tidak pernah ditanggapi. Telepon tak diangkat, pesan tak dibalas, bahkan sekadar ucapan terima kasih pun tidak pernah terdengar. Bagi Bustami, tampaknya media adalah ancaman, bukan mitra pembangunan.
Sikap tertutup dan alergi terhadap transparansi ini bukan hanya mencederai etika kepemimpinan, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa semangat reformasi birokrasi hanya menjadi slogan kosong di lingkungan Disdikbud Aceh Timur. Padahal, di era demokrasi, kehadiran pers adalah salah satu indikator sehatnya pemerintahan.
Nama Bustami kian sering disebut dalam diskusi-diskusi publik sebagai simbol kegagalan tata kelola birokrasi pendidikan. Para aktivis menyebutnya sebagai “diktator kecil” yang memimpin dengan cara-cara koersif dan tidak demokratis.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















