Saiful memandang bahwa Sekerak tidak bisa lagi ditempatkan sebagai “agenda tambahan” pembangunan. Ia harus masuk kategori prioritas utama, karena ketertinggalan wilayah ini sudah berlangsung terlalu lama.
“Kita tidak boleh tutup mata. Warga Sekerak berhak menikmati pembangunan sebagaimana masyarakat di kecamatan lain,” katanya. “Keluhan masyarakat yang disampaikan lewat media sosial saya adalah suara real yang harus segera ditindaklanjuti. Dan kami di legislatif siap memperjuangkannya.”
“DED akan kita prioritaskan, dan kita dorong eksekutif untuk segera mengeksekusi pembangunan jalan utama di Sekerak.”
Harapan di Ujung Jalan yang Retak.
DI balik jalan-jalan berlumpur yang menghubungkan kampung-kampung kecil, Sekerak menyimpan harapan besar. Harapan tentang pemerataan, perhatian, dan kesetaraan yang selama ini mereka nantikan.
Kerusakan jalan bukan sekadar hambatan fisik. Ia adalah simbol ketidakadilan pembangunan.
Dan suara Saiful Bahri menjadi salah satu suara yang mencoba menembus ruang kebijakan agar Sekerak tidak lagi menjadi wilayah yang terlupakan.
Ketika hujan turun, Lumpur kembali menutup jalan, dan warga kembali berjuang melewatinya. Namun kali ini, mereka tidak lagi berjalan sendirian.




