Ada mata yang menyaksikan, ada telinga yang mendengar, dan ada perwakilan rakyat yang membawa aspirasi mereka ke meja pengambilan keputusan.
Sekerak mungkin masih berada di antara kehampaan pembangunan.
Tetapi suara yang lantang dari pinggir jalan rusak itu kini telah menjadi doa dan desakan yang perlahan menggugah arah kebijakan.
Dan di setiap kilometer jalan yang menunggu disentuh pembangunan, tersimpan keyakinan bahwa suatu hari, Sekerak tidak lagi berada di barisan terakhir.
Sebab pembangunan tidak boleh memilih, dan kesejahteraan tidak boleh menunggu terlalu lama. [].




