Di Tanah yang Terlupakan, Saiful Bahri Mengangkat Derita Sekerak ke Ruang Kebijakan

Di Tanah yang Terlupakan, Saiful Bahri Mengangkat Derita Sekerak ke Ruang Kebijakan.

JALAN yang retak, parit yang tidak berfungsi, jembatan kayu yang nyaris putus, hingga akses menuju kebun warga yang makin sulit dilewati saat hujan—semuanya menjadi potret keniscayaan.

Keluhan yang Memanjat ke Ruang Publik.

KELUHAN warga Sekerak bukan hal baru. Namun kali ini berbeda. Ketika keluhan itu memenuhi kolom komentar di media sosial Saiful, ia memilih untuk tidak menunggu.

BACA JUGA...  RUMAH SAKIT DI TENGAH LUMPUR

Ia membaca, menelaah, lalu berangkat ke lokasi bersama camat, para datok penghulu, dan beberapa anggota dewan lainnya.

“Keluhan ini lahir dari masyarakat sendiri. Mereka mengadukan lewat media sosial, dan kami menindaklanjuti dengan turun langsung,” katanya.

Di setiap desa yang dikunjungi, Saiful disambut dengan penuturan yang sama; Jalan rusak, lumpur sampai betis ketika musim hujan, pengangkutan hasil panen yang mahal karena akses sulit dilalui, serta keterlambatan pelayanan dasar akibat transportasi yang tidak memadai.

BACA JUGA...  PT Hopson, Antara Asap Getah dan Bayang Hukum

Sekerak; Kecamatan yang Tertinggal di Tengah Geliat Pembangunan.

ACEH Tamiang dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan pergerakan ekonomi yang cukup dinamis di kawasan Timur Aceh. Namun di balik geliat itu, Sekerak seperti daerah yang luput dari perhatian.

“Jika dikaji mendalam, Sekerak adalah wilayah kecamatan termiskin secara infrastruktur,” tegas Saiful.

Ironisnya, sebagian besar wilayah kecamatan lain saat ini sudah menikmati akses jalan hotmix, jembatan permanen, dan fasilitas dasar yang relatif memadai. Sekerak berdiri seolah berada di waktu yang berbeda.