Dari Pesantren untuk Indonesia

SELAIN berbicara mengenai kebangsaan, Dede juga mengajak para santri untuk mempersiapkan diri menjadi generasi yang memiliki karakter kuat dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, etika sosial, dan semangat pengabdian.

BACA JUGA...  Jalan yang Berbelok dari Nurani

Ia menekankan pentingnya mengakumulasi nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari sebagai modal membangun masa depan yang lebih baik.

Pesan tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak.

Bagi Aceh Tamiang, keberadaan generasi muda yang produktif dan memiliki wawasan kebangsaan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa mendatang.

BACA JUGA...  Ini kata Meurah Budiman Terkait Koperasi Kopri ASN Syariah yang tak Aktif

BAHAYA PRIMORDIALISME DI TENGAH KEBERAGAMAN

PADA bagian akhir amanatnya, Dede mengingatkan para peserta upacara agar tidak terjebak pada sikap primordialisme yang berlebihan.

Ia menegaskan bahwa Indonesia lahir dari kesepakatan berbagai suku, agama, budaya, dan golongan yang berbeda.

Keberagaman tersebut bukan ancaman, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi bangsa, mulai dari polarisasi politik, konflik identitas, hingga penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial.