Namun yang menarik perhatian bukan hanya pelaksanaan upacaranya.
Sosok yang berdiri sebagai pembina upacara merupakan seorang mantan narapidana terorisme (napiter), Dede Nurjannata, S.Pd.I.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin upacara bukan sekadar simbol seremonial. Momentum tersebut menjadi gambaran bahwa proses reintegrasi sosial dan penguatan wawasan kebangsaan dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sekitar 70 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pimpinan pesantren, perangkat Desa Sidodadi, tenaga pengajar, tiga orang eks napiter, serta para santri dan santriwati PPIT Al-Hidayah.
PANCASILA DAN NILAI KEAGAMAAN
DALAM amanatnya, Dede Nurjannata mengajak para peserta upacara untuk memahami Pancasila sebagai dasar negara yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menyampaikan pandangannya bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Menurut Dede, substansi yang terkandung dalam setiap sila memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai universal yang juga diajarkan dalam agama.
“Pancasila sebagai dasar negara mengandung nilai-nilai yang mengajarkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Nilai-nilai tersebut juga diajarkan dalam Islam,” ujarnya.
Ia juga menyinggung keterlibatan tokoh-tokoh Islam dalam proses sejarah lahirnya bangsa Indonesia dan pembentukan dasar negara.




