KETIKA RUMAH SAKIT HAMPIR TENGGELAM

“Saya minta maaf kepada masyarakat Aceh Tamiang,” katanya. “Karena belum bisa memberikan pelayanan yang memuaskan.”

[dr Andika Putra, SpPD, FINASIM, MHKes. Direktur RSUD Muda Sedia].

Laporan dari RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang

  • Air Datang Tanpa Permisi

TIDAK ada sirene. Tidak ada aba-aba. Air datang begitu saja, membawa lumpur dan kayu-kayu besar dari hulu sungai yang telah lama kehilangan penyangga hutannya. Kamis pagi, 27 November 2025, RSUD Muda Sedia mendadak kehilangan fungsinya sebagai tempat aman.

BACA JUGA...  Aceh Tengah Terisolasi: Amru Hidayat Ungkap Kelumpuhan Total dan Krisis Logistik

Ia berubah menjadi ruang genting; tempat hidup dan mati bernegosiasi dalam senyap.

Lorong-lorong yang biasanya berbau antiseptik berubah menjadi aliran air cokelat. Lampu padam. Suara jerit pasien dan tangis keluarga berbaur dengan deru arus. Waktu seperti berhenti.

Di tengah kekacauan itu berdiri dr Andika Putra, SpPD, FINASIM, MHKes. Bukan sebagai pejabat struktural, melainkan sebagai dokter yang tahu persis: satu keputusan terlambat bisa berarti satu nyawa hilang.

BACA JUGA...  Janji Pahit Ubi Kayu; Ketika Petani Menanggung Dosa Ketua Poktan

MENINGGALKAN RUMAH, MEMILIH RUMAH SAKIT

PAGI itu Andika meninggalkan rumahnya. Istri dan anak-anaknya belum tahu kapan air akan berhenti naik. Ia juga tidak tahu apakah ia akan pulang dengan selamat. Tetapi ia tahu satu hal; pasien-pasiennya tidak bisa memilih.

Ketika riak mulai memasuki pekarangan RSUD, ia langsung memerintahkan evakuasi. “Kita pindahkan semua ke lantai dua,” katanya singkat. Tidak ada waktu untuk rapat panjang. Tidak ada ruang untuk ragu.

MENGGOTONG NYAWA DI TENGAH GELAP