DUKUNGAN lintas sektor mulai berdatangan. TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat dan daerah bahu-membahu. Pada 9 Desember 2025, RSUD Muda Sedia kembali beroperasi.
Namun luka belum sembuh. Hampir 90 persen peralatan medis rusak. Sebagian besar berbasis digital; mati oleh air dan lumpur. Monitor, alat diagnostik, mesin vital tak lagi bisa diandalkan.
“Saya belum tahu apakah semuanya bisa dipakai normal lagi,” ujar Andika. Itu menjadi pekerjaan rumah besar bagi dirinya dan pemerintah daerah.
MENCARI JALAN DI TENGAH KETERBATASAN
ANDIKA membuka komunikasi seluas-luasnya. Ia menghubungi relasi di luar Aceh Tamiang. Mencari solusi. Mencari kebijakan. Mencari harapan.
Koordinasi intens dilakukan bersama Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH. Pemulihan dipercepat, meski tidak selalu mulus.
“Kami masih banyak kekurangan,” aku Andika. “Tapi pelayanan tidak boleh berhenti.”
PERMINTAAN MAAF SEORANG DIREKTUR
DI AKHIR cerita, Andika tidak berbicara tentang keberhasilan. Ia berbicara tentang keterbatasan.
“Saya minta maaf kepada masyarakat Aceh Tamiang,” katanya. “Karena belum bisa memberikan pelayanan yang memuaskan.”
Kalimat itu bukan basa-basi. Ia lahir dari hari-hari panjang di tengah lumpur, dari jenazah yang dikuburkan tanpa keluarga, dari pasien yang bertahan hidup karena keputusan-keputusan darurat.




