DARI NORMALISASI SUNGAI KE PEMULIHAN KEHIDUPAN

“Ini bukan soal pembangunan fisik, ini soal keselamatan warga. Jika Kuala Sungai Tamiang dibiarkan dangkal, kita sedang membiarkan bencana berikutnya menunggu waktu. Negara harus hadir sebelum korban kembali berjatuhan.”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang].

  • Satgas Kuala Dan Pertaruhan Pemulihan Pascabencana

DI ACEH TAMIANG, sungai bukan hanya aliran air. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari sanalah air minum berasal, sawah diairi, perahu nelayan bergerak, dan ekonomi desa berdenyut.

BACA JUGA...  Ini kata Meurah Budiman Terkait Koperasi Kopri ASN Syariah yang tak Aktif

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sungai juga berubah menjadi sumber ancaman; banjir berulang, luapan air tak terkendali, sedimentasi muara, dan kerusakan lingkungan yang perlahan tapi pasti menggerus rasa aman warga.

Bagi masyarakat bantaran sungai, bencana bukan lagi peristiwa luar biasa. Ia telah menjadi rutinitas musiman. Datang, merendam rumah, merusak sawah, menghilang, lalu kembali lagi.

BACA JUGA...  DATA CEPAT, REALITAS BERJALAN

Di tengah siklus itu, negara mencoba masuk dengan pendekatan baru: bukan hanya bantuan darurat, tetapi intervensi struktural.

NEGARA DATANG KE HULU MASALAH

PADA MINGGU, 4 Januari 2026, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memimpin rapat koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Kuala di Aceh Tamiang, Aceh.