ACEH TAMIANG telah membayar bencana dengan nyawa manusia, dengan rumah, dengan tanah, dan dengan rasa aman.
Kini yang tersisa adalah pilihan negara, [mengeruk kuala, atau mengubur keselamatan warga dalam tumpukan sedimen].
Karena sungai yang dangkal bukan sekadar masalah teknis. Ia adalah simbol negara yang terlambat bertindak.
Dan sejarah selalu mencatat: bencana terbesar bukan yang datang dari alam, tetapi yang dibiarkan oleh kebijakan.
Dengan integrasi ini, pernyataan Bupati Aceh Tamiang menambah kedalaman konteks ekologis, sosial, dan kebijakan, sekaligus menegaskan urgensi mitigasi bencana secara struktural. [].




