Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM.
Setiap kali banjir dan longsor datang, air segera duduk di kursi pesakitan. Ia dituding sebagai penyebab kerusakan rumah, jalan, sawah, bahkan hilangnya nyawa. Media menyebut “amukan air, pejabat menyalahkan “curah hujan ekstrem”, masyarakat mengeluh tentang “air yang tak kenal kompromi”. Padahal, air sejatinya tidak pernah berubah tabiat. Ia hanya mengikuti hukum alam yang diciptakan Tuhan. Yang berubah adalah cara manusia memperlakukan alam.
Dalam logika alam, air selalu patuh. Ia mengalir ke tempat rendah, meresap ke tanah yang mampu menyerap, dan berhenti di ruang yang disediakan. Ketika sungai meluap, bukan karena air tiba-tiba durhaka, melainkan karena ruang hidupnya dirampas. Daerah resapan dipadatkan beton, hutan digunduli, sempadan sungai disulap menjadi permukiman, dan rawa dikeringkan atas nama pembangunan. Air hanya mencari jalan pulang namun jalannya telah ditutup oleh tangan manusia sendiri.
Islam sejak awal menempatkan air sebagai rahmat, bukan musibah. Al-Qur’an menyebut air sebagai sumber kehidupan: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya’: 30). Air adalah nikmat yang menghidupkan bumi yang mati, menyuburkan tanaman, dan menopang kehidupan. Jika kemudian air menjadi bencana, maka yang bermasalah bukan airnya, melainkan sistem kehidupan manusia yang merusak keseimbangan alam.



