MEULABOH (MA) — Sosok bertopeng dengan tubuh dibalut pelepah, daun pisang tua atau serabut ijuk muncul di tengah keramaian. Gerakannya mengikuti irama musik tradisional. Tidak banyak dialog, tetapi suasana pertunjukan tetap mampu menarik perhatian orang-orang yang datang menyaksikan.
Itulah Si Dalupa, teater rakyat yang masih hidup di sejumlah wilayah Aceh Barat, terutama Woyla Barat, Woyla Timur dan Bubon.
Kesenian ini lahir dan tumbuh dari masyarakat. Panggungnya tidak harus berupa gedung pertunjukan. Halaman rumah, ruang terbuka atau tempat berlangsungnya pesta masyarakat pun dapat menjadi arena bagi Si Dalupa.
Pertunjukan biasanya hadir dalam berbagai momentum, mulai dari pesta perkawinan, turun tanah, sunat rasul hingga perayaan keagamaan seperti Maulid dan Lebaran.
Bahkan, permintaan untuk menggelar Si Dalupa disebut kerap meningkat setelah masyarakat memasuki masa panen.
Artinya, kesenian tersebut tidak hanya bertahan karena agenda festival atau program pemerintah. Ada masyarakat yang masih merasa membutuhkan dan memberinya ruang untuk tampil.
Topeng dari Pelepah dan Kostum dari Alam
Salah satu hal yang membuat Si Dalupa mudah dikenali adalah penampilan para pemainnya.
Topeng secara tradisional dibuat dari pelepah pohon enau, sedangkan bagian kostum dapat menggunakan daun pisang tua atau serabut ijuk.















