Ruang terbuka sudah cukup.
Para pemain dapat bergerak dengan leluasa, sementara penonton berdiri atau duduk di sekitar area pertunjukan.
Jarak antara pemain dan penonton pun menjadi lebih dekat.
Dalam suasana seperti itu, penonton bukan sekadar orang yang melihat pertunjukan dari kejauhan. Mereka berada di dalam lingkungan sosial yang sama dengan para pemain.
Inilah salah satu kekuatan seni rakyat.
Ia lahir dari masyarakat dan kembali kepada masyarakat.
Di Aceh Barat, pola tersebut membuat Si Dalupa masih memiliki tempat. Ketika masyarakat masih mengundang dan menikmati pertunjukannya, tradisi tersebut memiliki alasan untuk terus dimainkan.
Jangan Sampai Berhenti pada Satu Generasi
Meski masih bertahan, Si Dalupa tetap menghadapi tantangan.
Perubahan selera hiburan, berkurangnya minat generasi muda dan semakin sedikitnya pelaku seni tradisional dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan kesenian rakyat.
Jika regenerasi terputus, yang hilang bukan hanya pemain.
Cerita, cara membuat topeng, teknik mengenakan kostum, musik pengiring, gerakan, syair dan berbagai pengetahuan yang melekat pada pertunjukan juga berpotensi ikut menghilang.
Karena itu, pelestarian Si Dalupa membutuhkan lebih dari sekadar menampilkannya dalam festival.















