Di dalam satu pertunjukan, berbagai bentuk seni tradisional dapat hadir secara bersamaan.
Ada kisah yang bersumber dari tradisi lisan, hiem atau teka-teki Aceh, sya’e atau syair, tarian, permainan rapa’i, geundrang dan seurunee kalee.
Dalam pertunjukan tertentu, dapat pula muncul daboh atau debus Aceh.
Berbagai unsur tersebut dirangkai sesuai dengan cerita dan kebutuhan pertunjukan. Karena itu, Si Dalupa sebenarnya memiliki cakupan seni yang cukup luas.
Ia bukan hanya teater.
Di dalamnya terdapat musik, tari, sastra lisan, permainan tradisional hingga unsur tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Si Dalupa memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
“Si Dalupa merupakan salah satu bentuk kekayaan seni pertunjukan rakyat yang di dalamnya terdapat unsur teater, musik, tari dan sastra lisan. Kesenian seperti ini penting untuk terus dikenalkan karena bukan hanya menyimpan nilai hiburan, tetapi juga pengetahuan dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Tak Butuh Panggung Mewah
Ada satu hal yang membuat Si Dalupa berbeda dari banyak pertunjukan modern: ia tidak bergantung pada panggung khusus.















