Saat Sekolah Tak Lagi Seruang dengan Kasih

Drs. Sepriyanto. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

“Jangan buru-buru menghakimi setiap teguran guru. Karena di balik suara yang keras, sering tersembunyi hati yang sedang berdoa agar muridnya kelak jadi manusia yang lebih baik.”

[Drs. Sepriyanto. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang].

  • Refleksi Pendidikan dari Aceh Tamiang atas Kasus Kepala Sekolah di Banten.

PAGI ITU, matahari belum terlalu tinggi ketika seorang kepala sekolah di Banten menegur siswanya.

BACA JUGA...  Inovasi Pembelajaran di MTsN 4 Pidie Jaya, Merangkul Potensi, Menumbuhkan Minat dan Bakat Siswa

Teguran sederhana, sejatinya menjadi bagian dari rutinitas harian dalam dunia pendidikan [sekadar mengingatkan agar disiplin dijaga, sopan santun ditegakkan].

Namun di era media sosial penuh dengan sorot dan emosi publik yang mudah menyala, teguran itu berubah menjadi bara.

Dalam hitungan jam, berita beredar, narasi terbentuk, dan opini mengalir lebih cepat daripada klarifikasi sempat diucapkan.

BACA JUGA...  Jembatan Harapan Pascabencana; Sinergi TNI dan Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh Tamiang

Hari itu, satu kepala sekolah kehilangan jabatannya. Dan dunia pendidikan kembali kehilangan satu potongan makna tentang “Mendidik dengan hati.”

Kisah itu menjadi cermin getir bagi banyak pendidik di seluruh pelosok negeri [Tak terkecuali Aceh Tamiang].

Di sebuah ruang kerja yang sederhana, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang, Drs. Sepriyanto, duduk dengan tenang mendengar kabar itu.