Dua Puluh Lima Tahun BPKS Sabang, Apa Manfaat Bagi Aceh?

Senin, 25 Agustus 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Awwaluddin Buselia

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat. Namun, perjalanan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) mengelola Sabang dan Pulo Aceh justru menunjukkan betapa visi besar pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang masih sebatas mimpi.

Tujuan awalnya jelas; mendorong ekspor dengan harga kompetitif, membuka lapangan kerja, menarik investasi asing, memperbesar modal dalam negeri, dan mendapatkan transfer teknologi untuk produksi berstandar internasional. Sayangnya, semua itu belum terlihat di lapangan.

BACA JUGA...  Quo Vadis Implementasi Kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah: Potensi dan Pembelajaran dari EITC di Amerika Serikat

Ironisnya, meski pemerintah telah memberikan insentif fiskal besar, pembebasan bea masuk, PPN, pajak barang mewah, hingga cukai, namun BPKS tetap gagal menjadikan Sabang magnet investasi. Idealnya, fasilitas ini menjadi “karpet merah” bagi investor. Faktanya, modal asing enggan masuk, anggaran BPKS terus menurun, dan banyak aset berakhir mangkrak. Yang tersisa hanyalah papan nama proyek, gedung kosong, dan dermaga yang lebih sering sepi daripada sibuk.

BACA JUGA...  BPKS Gelar Reses Komisi V DPR-RI Janji Minta Kepada BUMN Untuk Berinvestasi di Kawasan Sabang

Dermaga pelabuhan dan unit pelayanan terpadu memang berdiri megah. Bahkan, ratusan MoU sudah diteken. Tetapi, di balik angka-angka itu, realitasnya pahit: investor tak kunjung merealisasikan komitmen modal. Skenario awal membangun pelabuhan besar diasumsikan akan memicu arus ekspor-impor. Kenyataannya, hanya impor yang masuk. Ekspor nihil. Kawasan industri yang diharapkan menjadi pusat produksi perikanan, perdagangan, dan transportasi laut tak pernah terbentuk. Hasilnya, dermaga yang megah itu justru menjadi monumen kegagalan perencanaan, dengan kapal yang bersandar hanya sesekali, itu pun membawa barang impor atau kapal pesiar.

BACA JUGA...  Pilkada Sehat 

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

Dandim 0107/Asel Letkol (Inf) Andrino    menyerahkan bantuan kepada 40 warga Sawang yang tidak mampu.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

MILITER

TNI Hadir Untuk Warga Kurang Mampu

Sabtu, 3 Okt 2026 - 19:07 WIB

NANGGROE

Maulid PWI Aceh, Masrul Aidi Serukan Qanun Anak Yatim

Sabtu, 3 Okt 2026 - 12:15 WIB