Blangpidie (ADC) Dalam beberapa tahun terakhir, buah rumbia sudah sangat susah didapatkan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Padahal, buah dari pohon Sagu itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya para pedagang rujak.
Ratna, salah seorang penjual rujak di kawasan Pantai Jilbab, Susoh kepada awak media ini menuturkan, sejak terjadinya bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh pada tahun 2004 dirinya bersama pedagang rujak lainnya sudah sangat sulit mendapatkan buah rumbia tersebut.
“Buah rumbia ini sangat cocok kita campurkan sebagai bahan rujak, tetapi sejak beberapa tahun kami sudah sangat kesulitan mendapatkannya, kalaupun ada itu barang mahal dan dari luar,” tutur Ratna.
Senada Ratna, Sayed juga menuturkan hal yang sama, Menurutnya, sSetelah terjadinya peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami di Provinsi Aceh ini, pohon sagu tidak mau berbuah lagi sehingga buah rumbia sudah langka.
“Sebenarnya, kita di Abdya ini masih banyak pohon-pohon sagu, malah terlihat tumbuh subur di rawa-rawa, tapi entah kenapa tidak ada buahnya, meskipun kadang ada bunganya sebelum rontok,” jelas Sayed.
Untuk mengantikan buah rumbia tersebut, kata Sayed, dirinya bersama pedagang rujak lainnya terpaksa menggunakan buah pisang muda sebagai pengganti buah rumbia. “Buah rumbia ini kan rasanya sedikit kelat, jadi bisa kita akali degan menggunakan buah pisang muda,” katanya.
Untuk diketahui, buah rumbia itu hampir mirip dengan buah salak, hanya saja sisik buah rumbia sedikit besar, rasanya kelat, dan bila sudah benar-benar matang rasanya berubah sedikit manis.
Selain sebagai bahan rujak, buah rumbia juga bisa untuk mengobati penyakit diare dan dapat juga dijadikan oleh-oleh buah rumbia asinan. Buah ini dulu cukup banyak dijual di Suak Seumaseh, Meulaboh.(TN).








Komentar