Di 20 titik pengumpulan, karung-karung beras, mie instan, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya menunggu kapal yang tidak pernah datang.
Di Jakarta, pemerintah pusat masih sibuk dengan rapat koordinasi dan seremonial yang tidak menyentuh kebutuhan rakyat di lapangan.
Dan di Aceh, Abu Salam masih berteriak, masih menuntut, masih mengingatkan bahwa di balik angka-angka korban meninggal dan hilang, ada manusia-manusia yang butuh diselamatkan, bukan dijanjikan.
Kata-kata empati dari Gubernur Mualem—”Kepada seluruh masyarakat Aceh yang terdampak, kami menyampaikan empati dan dukungan penuh. Pemerintah akan terus hadir, bekerja, dan memastikan proses pemulihan berjalan sebaik-baiknya“—terasa hambar ketika rakyat masih kelaparan, masih terisolir, masih menunggu bantuan yang tidak kunjung datang.
Empati tanpa tindakan nyata hanyalah kata-kata kosong yang tertiup angin. Dan rakyat Aceh, yang sudah terlalu lama menderita, tidak butuh kata-kata lagi. Mereka butuh kapal. Mereka butuh bantuan.
Mereka butuh pemerintah yang tidak hanya pandai berpidato, tetapi juga mampu menyelamatkan nyawa dan mulai serius menghentikan penebangan liar yang terus menggerogoti masa depan.
Abu Salam benar. Proses rekonstruksi pemerintah pusat memang terlalu banyak seremonial.



