500 Ton Bantuan Terkunci di Malaysia; Abu Salam Sebut Pusat Sibuk Seremonial

Ketika hutan sudah gundul, ketika sungai sudah dirusak oleh penambangan ilegal yang tidak terkontrol, maka banjir bukan lagi bencana alam—ia adalah bencana yang diciptakan oleh keserakahan dan ketidakdisiplinan pemerintah dalam mengamankan kekayaan alam. Dan hari ini, rakyat yang membayar harganya.

Pada 29 November 2025, satu hari setelah banjir melanda, Abu Salam mengirimkan bantuan darurat dari tim KPA Luwa Nanggroe di Jakarta untuk korban banjir di Aceh Utara: 5 ton beras, 1 ton minyak makan, 1.000 dus mie instan, dan ratusan paket pembalut serta pampers.

Kemudian hingga saat ini Abu Salam bersama Timnya telah menyalurkan bantuan sebanyak 65 Ton Logistik bantuan ke beberapa wilayah di Aceh yang terdampak parah banjir dari para donatur yang terkumpul.

BACA JUGA...  BBM Bercampur di Aceh, Dugaan Kuat, Pertamax Distribusi Pertamina  Bercampur di SPBU

“Kami bergerak sebelum negara sempat menoleh. Karena bagi kami, rakyat adalah amanah pertama. Tapi tidak mungkin kerusakan sebesar ini ditanggung rakyat sendirian. Hari ini, giliran pemerintah menunjukkan apakah mereka serius dalam melindungi rakyat dan menghentikan penebangan liar yang merampok masa depan generasi mendatang,” tegas Abu Salam dengan keyakinan yang tidak goyah.

Malam ini, saat masyarakat Aceh tidur dengan perut kosong, saat anak-anak menangis karena kedinginan, saat ibu-ibu berdoa di posko pengungsian yang becek, 500 ton bantuan masih tertahan di Malaysia.