Tolak 1.000 Pikap India! Mata Hukum Desak Audit Total Impor Agrinas

Rabu, 25 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Jenderal Mata Hukum, Mukhsin Nasir.

Sekretaris Jenderal Mata Hukum, Mukhsin Nasir.

JAKARTA | MA — Teka-teki mendaratnya 1.000 unit mobil pikap asal India di pelabuhan Indonesia, di tengah instruksi penundaan impor oleh DPR dan Pemerintah, memicu reaksi keras dari kalangan aktivis hukum. Lembaga pemantau hukum, Mata Hukum, mencium adanya aroma maladministrasi dan upaya sistematis untuk memaksakan kebijakan impor melalui fakta lapangan.

BACA JUGA...  KONI Aceh Resmi Digugat ke BAKI di Jakarta 

Sekretaris Jenderal Mata Hukum, Mukhsin Nasir, menegaskan bahwa tibanya gelombang pertama dari total rencana 105.000 unit pikap untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih ini bukan sekadar masalah logistik, melainkan bentuk pembangkangan terhadap semangat kemandirian industri nasional.

Modus Operandi ‘Fait Accompli’
Mukhsin menyoroti pola klasik di mana barang didatangkan terlebih dahulu sebelum regulasi atau perdebatan publik selesai. Menurutnya, ini adalah strategi agar pemerintah tidak punya pilihan selain melegalkan distribusi dengan alasan kerugian investasi.

BACA JUGA...  ​Blokir Wartawan, Mata Hukum Sebut Dirjen PKTN Tak Layak Jadi Pejabat

“Ini modus operandi klasik: barang dikirim dulu, lalu bilang ‘sudah terlanjur datang’. Ini adalah upaya menodong Presiden dan DPR dengan fakta di lapangan. Mata Hukum melihat ada oknum di balik PT Agrinas Pangan Nusantara yang sengaja melangkahi kedaulatan industri otomotif kita demi mengejar komisi impor,” ujar Mukhsin dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu (25/2).

BACA JUGA...  Polresta Banda Aceh Ungkap Motif Pembunuhan Aris Ananda

Berita Terkait

Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang
Polresta Banda Aceh Usut Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Bugar Refleksi
Anggota PWI Aceh Tenggara Polisikan Pemilik Akun Facebook Muhamad Saleh Selian
PWI Siap Gelar HPN 2027, Buka Ruang bagi Seluruh Konstituen Dewan Pers
Jangan Tangkap dan Tahan, Praktisi Hukum: Kasih Tau Keluarga 
Tiga Residivis Kembali Ditangkap 
Misteri Mandeknya Pidana Lingkungan
Sempat Buron Hampir Setahun, Terpidana Penelantaran Anak Akhirnya Dieksekusi Kejaksaan

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 13:44 WIB

Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang

Jumat, 4 September 2026 - 19:22 WIB

Polresta Banda Aceh Usut Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Bugar Refleksi

Jumat, 4 September 2026 - 17:09 WIB

Anggota PWI Aceh Tenggara Polisikan Pemilik Akun Facebook Muhamad Saleh Selian

Jumat, 4 September 2026 - 16:51 WIB

PWI Siap Gelar HPN 2027, Buka Ruang bagi Seluruh Konstituen Dewan Pers

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:52 WIB

Jangan Tangkap dan Tahan, Praktisi Hukum: Kasih Tau Keluarga 

Berita Terbaru

Ilustrasi cover editorial bantuan stimulan

EDITORIAL

60.223 KK, Amanah yang Harus Sampai ke Rumah

Sabtu, 5 Sep 2026 - 13:44 WIB

Tim advokat LBH Peradi Profesional bersama warga mengawal proses hukum dugaan pencemaran lingkungan yang melibatkan PT Genesis Regeneration Smelting (GRS) di Serang, Banten. (Foto: JR/MA)

HUKOM

Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang

Sabtu, 5 Sep 2026 - 13:44 WIB