TNGL Kluet Timur Dirambah, Aparat Gampong Diduga Terlibat 

Perambahan hutan di kawasan konservasi TNGL Blok Pucuk Lembang Kluet Timur marak terjadi belakangan ini, tanpa pencegahan.(Foto/mediaaceh.co.id/Maslow Kluet).

TAPAKTUAN | MA Aksi  perambahan terhadap hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kluet Timur,  tepatnya di Blok Hutan Pucuk Lembang, sekitar 50-an Km arah Timur Laut Tapaktuan,  semakin marak dalam beberapa pekan terakhir.

Aktifitas penebangan liar itu, diduga melibatkan aparat desa (gampong) atau paling tidak mengetahui tanpa pencegahan.

Menurut keterangan, penebangan hutan yang dilindungi itu, hanya dilakukan sebagian kecil warga dengan alasan untuk keperluan lokal. Namun, karena tidak ada pelarangan, memicu banyak  warga lain, sehingga berubah menjadi aksi massal yang melibatkan penduduk setempat.

Laporan  menyebutkan, perambahan tersebut bermula dari praktik illegal logging yang telah lama berlangsung di area konservasi tersebut.

Sejumlah oknum warga, dilaporkan,  menebang kayu besar itu menggunakan mesin chainsaw. Sedianya,  dalam kawasan TNGL tidak boleh terjadi tindakan apapun, kecuali perlindungan (konservasi) hutan.

Keterangan lain, mengungkapkan, penebangan areal TNGL bisa jadi sebagai modus untuk perluasan kebun sawit, ketika ada ada “perlawanan” dari pihak terkait.

BACA JUGA...  Polresta Deliserdang Raih Kepatuhan Tinggi Pelayanan Publik

“Apalagi, kalau aparat penegak hukum, pihak pengawas dan pelaksana TNGL diam,” kata tokoh masyarakat di Kluet Timur.

Sementara itu, selama ini, aparat gabungan yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, dan petugas kehutanan beberapa kali menemukan aktivitas itu.

Namun, setiap temuan selama ini masih diselesaikan dengan pendekatan persuasif, di mana,  pelaku hanya diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan.

Belakangan, pada Minggu, (14/9/2025), Tim Pengawasan Hutan Konservasi kembali menemukan sejumlah warga tengah menebang kayu di dalam kawasan TNGL.

Para pelaku kemudian dibawa ke Kantor Keuchik Pucuk Lembang untuk dibuatkan surat pernyataan.

Namun situasi berubah tegang saat hujan lebat turun dan warga lain berdatangan ke lokasi. Suara protes bermunculan, dan suasana menjadi tidak terkendali. Tim akhirnya gagal melaksanakan penandatanganan surat pernyataan.

Keesokan harinya, Senin (15/9/2025), tim gabungan bersama aparat keamanan kembali ke lokasi, tetapi kerumunan warga yang lebih besar sudah menunggu. Protes semakin keras, bahkan sempat terjadi pengancaman terhadap petugas.

BACA JUGA...  Jaga Kesehatan Masyarakat Akibat Asap Dinkes Pijay Bagikan Masker

Karena situasi makin tidak kondusif, aparat akhirnya mengevakuasi seluruh anggota tim patroli dari lokasi untuk menghindari benturan.

Dampak penertiban tersebut, terjadi insiden dan setelahnya, aksi perambahan justru makin meluas. Warga menebang pohon menggunakan parang dan mesin pemotong kayu.

Menurut sejumlah sumber, sebagian warga mengaku terpaksa ikut karena adanya tekanan dan ancaman dari kelompok tertentu.

“Kalau tidak ikut menebang, bisa diusir dari gampong,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memilih diam dan ikut dalam aktivitas ilegal tersebut demi keselamatan diri dan keluar

Pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), membenarkan terjadinya perambahan hutan  di kawasan konservasi Pucuk Lembang.

“Kami telah pantau aksi itu sejak beberapa waktu terakhir,” kata Kepala Bidang I BBTNGL Kamarudzaman.

Dia  mengatakan,  pihaknya telah mengambil langkah formal dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Aceh Selatan dan Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera.

“Terkait aktivitas di dalam kawasan TNGL di Blok Hutan Pucuk Lembang, kami dari pihak TNGL sudah melaporkan hal tersebut ke Polres Aceh Selatan dan ke Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera,” ujarnya, Minggu (12/10/2025).

BACA JUGA...  Jaga Pilkada, Prajurit TNI Patroli Hingga Ke Pante Kera

Dia menambahkan, pihak TNGL terus memperkuat patroli dan pengawasan bersama aparat penegak hukum serta pemerintah daerah. “Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak agar langkah penegakan hukum berjalan efektif dan memberikan efek jera,” ujarnya menegaskan.

Kapolres Aceh Selatan AKBP T Ricki Fadlianshah, menanggapi  perambahan TNGL dengan mengatakan, pihaknya sedang melakukan proses penyelidikan melalui Satreskrim.(Maslow Kluet).