TMK YANG DIPERSOALKAN; KETIKA RUMAH TERTIMBUN LUMPUR, NEGARA MASIH MENGHITUNG SENTIMETER

Negara, dalam konteks ini, tidak sedang mengukur penderitaan—tetapi mengukur sentimeter.

SUARA DARI KAMPUNG PINGGIR SUNGAI

DI DUSUN Tanjung Mulia, Desa Kaloy, suara warga terdampak justru memperlihatkan ironi sistem.

Seorang warga bernama Tawarati menyampaikan keberatan; “Saya mewakili orang tua saya, rumah orang tua saya masuk TMK. Padahal rumah mamak saya di pinggir sungai, kampung di pinggir ni, rumah mamak saya remuk.”

Kesaksian serupa datang dari Mama Asha dan Raziq, terkait rumah orang tua mereka, almarhum Awisman, mantan Datok Penghulu Alur Manis;

Air banjir mencapai atap asbes. Bagian dapur dan belakang rumah hancur. Dinding dapur retak hingga tembus ke luar. Pintu belakang jebol. Isi rumah habis. Hanya tersisa kursi, rangka tempat tidur, dan lemari yang masih bisa diselamatkan. Tinggi lumpur pascabanjir setinggi betis orang dewasa. Namun, rumah tersebut tetap berstatus TMK.

BACA JUGA...  ARMIA PAHMI DI GARIS DEPAN

Ironisnya, proses verifikasi dilakukan setelah rumah dibersihkan, setelah warga menghabiskan uang pribadi untuk mengeluarkan lumpur yang sudah mengeras dan memadat.

Seorang warga menyindir getir: “Yang kena Cuma semeter tidak masuk TMK, yang kena sampai seatap dan ludes malah TMK. Good job pemerintahnya.”

TMK: STATUS ADMINISTRATIF, DAMPAK SOSIAL