Banda Aceh (MA) – Konstelasi dan dinamika politik di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2024-2029 terus menjadi sorotan publik.
Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luwa Nanggroe sekaligus Penasihat Gubernur Aceh bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri, Teuku Emi Syamsyumi alias Abu Salam, turut memberikan pandangannya terkait figur-figur sentral yang dinilai layak menakhodai parlemen Aceh.
Abu Salam menilai tantangan Aceh ke depan—terutama dalam mengamankan iklim investasi dan memperkuat diplomasi ekonomi internasional—membutuhkan sosok pimpinan dewan yang komprehensif.
Berdasarkan amatannya, terdapat tiga nama anggota dewan yang dinilai sangat memenuhi kriteria ideal sebagai Ketua DPRA. Ketiga kandidat tersebut adalah Saiful Bahri (Pon Yahya), H. Hendri Muliana, serta Nazaruddin (Tgk Agam).
“Ketiga tokoh ini memiliki rekam jejak yang solid, baik di akar rumput, legislatif, maupun eksekutif. Kematangan politik mereka adalah aset penting untuk menyelaraskan arah pembangunan dan iklim tata ruang Aceh ke depan,” ujar Abu Salam di Banda Aceh.
Sebagai informasi, keanggotaan DPRA periode 2024-2029 saat ini diisi oleh 81 anggota dari 13 partai politik nasional dan lokal, dengan dominasi kursi terbesar masih dipegang oleh Partai Aceh.





