Dalam pernyataan akhirnya, Nasir Djamil menegaskan; “Tamiang harus bangkit dengan tata ruang yang benar. Bila ruangnya kacau, maka masa depannya pun ikut hancur.”
Sementara Sayed menutup dengan suara yang berat, namun tajam;
“Ini bukan takdir. Ini peringatan. Hulu yang rusak akan mengirimkan pesan ke hilir, dan pesan itu berupa bencana. Kita masih bisa memperbaikinya—tetapi waktu kita tidak banyak.”
- Banjir yang Menelanjangi Tata Ruang.
AIR BAH itu datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai vonis. Dalam tempo delapan jam, 12 kecamatan dan 216 desa di Aceh Tamiang tenggelam dalam gelombang cokelat yang membawa log, lumpur, dan ingatan buruk tahun-tahun sebelumnya.
Namun kali ini berbeda; bukan sekadar banjir, melainkan ledakan ekologis yang memperlihatkan telanjang retaknya hubungan manusia dengan alam.
Di tengah keputusasaan warga, dua suara muncul dari arah berbeda namun seirama; Nasir Djamil, anggota DPR RI asal Aceh, dan Sayed Zainal M, Direktur Eksekutif LembAHtari.
Keduanya melihat bencana ini bukan sebagai fenomena alam semata, tetapi sebagai hasil dari akumulasi keputusan buruk yang menumpuk selama bertahun-tahun.
MENYUSURI JEJAK KERUSAKAN; ANTARA PETA, KASUS, DAN DIAMNYA HULU



