“Bantuan kami memang tidak seberapa dibandingkan penderitaan yang mereka alami. Banyak di antara warga kehilangan anak, orang tua, ibu, bapak, dan harta benda. Tapi kami hadir untuk meringankan beban itu, agar mereka bisa bertahan menjalani hidup sementara di penampungan dan tenda darurat.”
[Ir. Ridwan, Perwakilan PT Bahari Lestari Group & CV Akila]
- Kisah PT Bahari Lestari & CV Akila di Tengah Luka Aceh Tamiang
HARI-HARI setelah Bencana Ekologi Meteorologi meratakan Aceh Tamiang menjadi seperti potret gelap dari sebuah kabupaten yang kehilangan denyutnya.
Lumpur kecokelatan bercampur tumpukan log kayu menjelma arus maut pada 26 November 2025, menumbangkan rumah, menghancurkan jalan, menenggelamkan kampung, dan merampas nyawa orang-orang yang dicintai.
Selama sepuluh hari, dari 26 November hingga 5 Desember, Kualasimpang—yang biasanya hiruk pikuk sebagai ibukota—berubah menjadi kota mati. Warga menyebutnya kota zombie.
Bukan karena kisah fiksi, tetapi karena ribuan orang berjalan tertatih dengan tubuh berlumur lumpur, mencari air, mencari makanan, mencari tanda-tanda hidup.
PLN padam. Telkom runtuh. Rumah sakit tidak berfungsi. Pemerintahan lumpuh total. Malam-malam yang gelap seperti menelan seluruh harapan. Banyak warga terpaksa memungut makanan yang hanyut dari ruko-ruko yang jebol.




