Mungkin bantuan itu tidak menghapus trauma. Tidak mengembalikan rumah yang hanyut atau orang-orang yang pergi. Tetapi bantuan itu memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: rasa bahwa masyarakat Aceh Tamiang tidak berjuang sendirian.
Dan di tengah reruntuhan itu, harapan mulai tumbuh kembali. Pelan, tapi pasti. [].















