Pertamina EP Rantau Tertibkan Bangunan di Area Sumur dan Jalur Pipa

PT Pertamina EP Rantau Field melakukan penertiban bangunan lama dan juga tenda yang baru didirikan pascabanjir pada area Sumur SP 13, Desa Kota Lintang, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Penertiban ini murni untuk keselamatan dan keamanan masyarakat di sekitar wilayah operasional. [Foto dok. Mediaaceh.co.id].

“Pasca banjir, tidak sedikit warga mendirikan tenda hingga bangunan di atas lahan yang dekat dengan sumur dan jalur pipa. Padahal kawasan ini bertekanan tinggi, sehingga kami melakukan sosialisasi dan edukasi agar warga membongkar sendiri bangunan tersebut demi keselamatan jiwa,” ujar Tomi dalam keterangan tertulis.

[Field Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah].

  • Pascabanjir yang melanda Aceh Tamiang memicu munculnya hunian darurat di berbagai titik. Namun, sebagian di antaranya berdiri di kawasan berisiko tinggi, termasuk di sekitar sumur minyak dan jalur pipa transmisi.
BACA JUGA...  Tindak Lanjut Audiensi Menteri PU; Kepala BPJN Aceh Sambangi Bupati Aceh Tamiang

PERTAMINA EP Rantau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan Zona 1, melakukan penertiban terhadap bangunan lama serta tenda yang didirikan warga di area Sumur SP 13, Desa Kota Lintang, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasi migas, khususnya setelah banjir mendorong warga mendirikan tempat tinggal sementara di lokasi yang tidak semestinya.

BACA JUGA...  DUKUNGAN MENDAGRI DAN UJIAN PEMULIHAN ACEH TAMIANG

Field Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan bahwa pihaknya menemukan sejumlah bangunan warga berdiri di kawasan berisiko tinggi.

Bahkann, beberapa di antaranya berada tepat di atas jalur pipa transmisi yang memiliki tekanan tinggi.

“Pasca banjir, tidak sedikit warga mendirikan tenda hingga bangunan di atas lahan yang dekat dengan sumur dan jalur pipa. Padahal kawasan ini bertekanan tinggi, sehingga kami melakukan sosialisasi dan edukasi agar warga membongkar sendiri bangunan tersebut demi keselamatan jiwa,” ujar Tomi dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026 lalu.

Ia menjelaskan, pendekatan yang dilakukan tidak bersifat represif, melainkan mengedepankan dialog secara humanis dan persuasif.