Desa yang sebelumnya gelap mulai menerima makanan, susu bayi, tenda, obat-obatan.
Ivan menangis melihat seorang ibu yang sebelumnya tidak makan dua hari akhirnya memperoleh susu untuk bayinya.
Pemulihan yang Tak Selesai dalam Semalam.
5 DESEMBER 2025; Meski pusat dan provinsi telah turun membantu, kenyataannya distribusi logistik belum merata.
Banyak mobil Pemda rusak terendam. BBM langka. Truk masuk ke desa-desa terpencil pun tidak cukup.
Tetapi tidak ada satu hari pun di mana Armia atau Ivan berhenti turun ke lapangan.
“Kita hanya punya satu pilihan: tetap bergerak.” kata Armia kepada para relawan di Paya Bedi.
Relawan desa bahkan menggunakan truk pribadi, meski kehabisan BBM di tengah jalan, demi memastikan tetangga mereka tidak kelaparan. Bayangan yang Selalu Mendahului Bupati.
Di Banyak titik banjir, warga menyebut satu nama selain bupati; Ivan Cibot.
Ia bergerak sebelum diminta. Ia hadir sebelum kamera datang. Ia mengangkut anak-anak, mengangkat lansia ke perahu, menyuapi warga yang lemah, hingga tertidur di lantai basah posko.
Di beberapa lokasi, warga berkata; “Belum ada perahu resmi yang masuk, tapi ada Ivan duluan.”
Hubungan antara Armia dan Ivan bukan hubungan formal. Mereka saling memahami tanpa banyak kata; satu dengan kewenangan memutuskan, yang lain dengan insting lapangan yang tajam.




